Powered By Blogger

Senin, 19 Mei 2014

ceramah Syeikh Abdul Qadir `Al-Jailani

Al Arif Billah Al Allamah Al Musnid Habib
Umar bin Hafidz
( inti ceramah bukan pada susunan kalimat,
tapi pada kesucian hati dan sifat sidiq si
pembicara.)
Ketika Seorang Wali Allah swt
Berceramah..
Syeikh Abdul Qadir `Al-Jailani sangat
masyhur kewaliannya, seorang dengan
berbagai julukan, qutb rabbani, seorang sufi
yang agung, seorang yang sangat mencintai
dan dicintai Allah dan sayyidina
Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Beliau bila berceramah menggunakan
bahasa yang sangat sederhana, anak beliau
yang telah menimba ilmu dan gemar
berceramah satu ketika berkata di dalam
hatinya jika diizinkan berceramah tentu aku
akan berceramah dan membuat para
hadirin akan menangis.
Suatu hari syeikh Abdul Qadir Al Jailani
ingin mendidik putranya, dan berkata wahai
putraku, bangkitlah dan berceramahlah....
Si anak kemudian berceramah dengan
sangat bagus, namun tidak ada seorangpun
yang menangis apalagi khusus`, para
hadirin merasa bosan mendengar
ceramahnya, padahal si anak telah banyak
mengeluarkan Al Quran dan hadis nabawi
Setelah selesai, maka naiklah syeikh Abdul
qadir ke atas mimbar lalu berkata:
“Para hadirin, tadi malam istriku,
menghidangkan ayam panggang yang
sangat lezat, tetapi tiba-tiba datang seekor
kucing dan memakannya.”
Mendengar ucapan ini, para hadirin
menjerit, menangis..
Aneh...aku bacakan Al-qur`na, hadis nabi,
syair dan berbagai akbar tak seorangpun
yang menangis. Tapi ketika ayahku
menyampaikan ucapan yang tidak ada
artinya, mereka justru menangis. Sungguh
aneh, apa penyebabnya?
Al Arif Billah Al Allamah Al Musnid Habib
Umar bin Hafidz menjelaskan inti ceramah
bukan pada susunan kalimat, tapi pada
kesucian hati dan sifat sidiq si pembicara.
Sewaktu syeikh Abdul qadir al jailani
berceramah, para hadirin yang menangis
mengartikan kucing dalam cerita beliau
sebagai “Setan” yang mencuri amal anak
cucu Adam dengan cara menimbulkan
sikap Riya`, Ujub, sombong.
Ada pula para hadirin yang menangis,
menjerit mengartikan seseorang yang wafat
dalam keadaan Su`ul khatimah, yakni ia
membayangkan seseorang yang banyak
beramal shalih namun di akhir hayatnya
berakhir dengan su`ul khatimah (wafat
dalam keadaan buruk)
Mereka semua menangis dan merasa takut
kepada Allah Ta`ala hanya karena ucapan
biasa.
Sesungguhnya ucapan biasa itu telah
membuat mereka berpikir, menerbitkan
cahaya di hati mereka, berkat cahaya yang
memancar di hati syeikh Abdul Qadir Al
Jailani
Wallahu`alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar