Powered By Blogger

Sabtu, 24 Mei 2014

Wanita Pertama Penghuni Surga

Wanita Pertama Penghuni Surga, Dialah Mutiah
Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelahUmmahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam."Assalaamu'alaikum ya ahlil bait." Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, "Wa'alaikassalaam ... siapakah diluar?" lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, "Saya Fatimah putri Muhammad SAW." Mutiah menjawab, "Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta."Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu."Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?"Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, "Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku."Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu' kepada suaminya.Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah... Tsumma Subhanallah.Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan."Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku."Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.Wallahu a'lam bish shawab.

sumber : https://www.facebook.com

Kamis, 22 Mei 2014

tanpa judul

km adalah orang yg dekat dan pantas memberinya bantuan,, dan km mengharap kan orang trsb meminta bntuan pada km,, tetapi orang tsb malah memilih untuk meminta bantuan orang lain yg lebih jauh,, apa yg dirasa adalah bgtu tidak berarti nya km yg brada didekatnya,,
apa lagi ditambah kebohongannya dan ketidak perduliannya trhadap hati dan perasaan mu,,
orang teman biasa pasti merasakan sakit,, apa lagi orang yg bkn sebatas teman biasa,,???
bahkan setelah itu pun km sudah rela menjatuhkan harga dirimu demi orang itu,, tp orang itu msh tak memperdulikannya,,
coba perasaan apa yg dimiliki orang itu , tak punya hatikah orang itu,,
dan sekarang km hanya bisa menangis dengan kekecawaan yg sangat membingungkan,, menangis untuk orang yg tak punya hati,, brtahun2 menjalani dengan orang yg brbohong atas perasaannya,, mungkin selama bertahun2 itu hanya km yg merasakan kenangan dan momen bersamanya,, sedangkan dia tidak,, sebab dia sudah tak memperdulikan mu lg,, bagai kain yg menghapus air mata lalu di buang,,

aneh tapi nyata ,,

qtta sangat takut terlambat ketika qtta brangkat k'sekolah, kerja dll
tapi kenapa ketika panggilan Allah tiba seolah" qtta tak m'dengar ,, qtta tetap sibuk dng urusan duniawi,, bukankah Allah yg m'beri qtta k'sempatan tuk b'sekolah/b'kerja dll ,,
lantas mengapa qtta m'abaikan panggilan'a ,,???
kenapa ,,,??????'
nasi uduk nasi kering, beras'a beras pera,,
denger bedug'a sering tapi pada pora_pora ,,
nasi uduk nasi kering ,, d'bungkus d'daon tales ,,
denger beduk'a sering ,, tapi sholat'a pada males ,,, 
‪#‎termasuk‬ gw (intropeksi) 

CARAKU MENJAGA CINTAKU

Dengan tak menghubungimu, tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu. Mungkin ini tak biasa, Tapi bagiku, Inilah cara terbaik mencintaimu.
Aku mencintaimu dengan menjauh darimu, Bukan karena aku membencimu, Justru karena aku sangat mencintaimu, Dan aku ingin menjagaku juga menjagamu, Menjaga tulusnya hatimu, juga menjaga kesucian hatiku.
Inilah caraku mencintaimu, Dalam diamku, Dalam ketulusanku, dalam kesucianku, dalam cara tak biasaku, Meski sulit, Meski berat, Meski sakit untukku, namun ku tahu ini pilihan terbaik agar kita tak terlalu saling mengharap.
Karena berharap hanya pantas pada Sang Pemberi Nafas, Karena berharap hanya pantas digantungkan pada Sang Pengatur Detak Jantung, PadaNya kuharap Dia khan menjagamu untukku, PadaNya kutitipkan hatimu, Biarlah ku hanya bisa menyapamu lewat senandung do'a, Agar Untukmulah segala kebaikan, Agar bersamamulah segala keindahan.

Kisah Nyata Pembenci Maulid

"Suatu hari As Syekh As Sayyid
Abbas Al-Maliki Al-Hasani berada
di Baitul Muqaddas Palestina untuk
menghadiri peringatan Maulid Nabi
SAW di mana saat itu bershalawat
dengan berjamaah. Saat itulah
beliau melihat seorang pria tua
beruban yang berdiri dengan
khidmat mulai dari awal sampai
acara selesai. Kemudian beliau
bertanya kepadanya akan sikapnya
itu. Lelaki tua itu bercerita bahwa
dulu ia tidak pernah mau mengakui
acara Maulid Nabi dan ia memiliki
keyakinan bahwa perbuatan itu
adalah Bid'ah Sayyi'ah (bid'ah yang
jelek).
Suatu malam ia mimpi duduk di
acara Maulid Nabi bersama
sekelompok orang yang bersiap-
siap menunggu kedatangan Nabi
SAW ke masjid, maka saat
Rasulullah SAW tiba, sekelompok
orang itu bangkit dengan berdiri tuk
menyambut kehadiran Rasulullah
SAW. Namun hanya ia saja seorang
diri yang tidak mampu bangkit tuk
berdiri. Lalu Rasullullah SAW
berkata kepadanya: "Kamu tidak
akan bisa bangkit!" Saat ia bangun
dari tidurnya ternyata ia dalam
keadaan duduk dan tidak bisa
berdiri. Hal ini ia alami selama 1
tahun. Kemudian ia pun bernadzar
jika sembuh dari sakitnya ia akan
menghadiri acara Maulid Nabi di
masjid dengan bershalawat.
Kemudian Allah menyembuhkannya
. Ia pun selalu hadir tuk memenuhi
nadzarnya dan bershalawat dalam
acara Maulid Nabi SAW".
Sumber :
Kitab Al-Hady At-Tam fi Mawarid
al- Maulid an-Nabawi, hal 50-51,
karya Syekh As Sayyid Muhammad
bin Alwi Al-Maliki


sumber : https://www.facebook.com/

Senin, 19 Mei 2014

- ROSULULLOH MENCINTAI UMATNYA -

1. Ketahuilah, Rosulillah saw mencintai umatnya. Beliau berdakwah dari kaum ke kaum untuk mengenalkan islam, Rosululloh saw pun beliau rela dirinya dilempari batu, kotoran hingga benda-benda tajam agar beliau menyerah. Tapi tidak, Rosul saw tetap berjuang agar umat-Nya dapat masuk ke syurga.
2. Sejahat-jahatnya umat Rosulillah saw pasti Rosulillah saw akan menyelamatkan umat-Nya tersebut agar terhindar dari siksa api Neraka. Rosulillah saw setiap hari dalam hidupnya menangisi kita sebagai umat beliau.
3. Nabi Muhammad saw selalu berusaha dengan perjuangan beliau yang luar biasa agar para umat-Nya bisa masuk ke dalam syurga.

3 jenis makanan di neraka itu?

Apakah 3 jenis makanan di neraka itu?

(1) ZAQQUM
Firman Allah swt: Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. Ia bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. (43 – 46 : ad-Dukhan)Firman Allah swt: (Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum.? Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai ujian bagi orang-orang yang zalim (samada mereka percaya atau tidak). Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang tumbuh dari dasar neraka. Buahnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu sehingga memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. (62 – 66 : as-Saffat).

Ibnu Abbas berkata:

“Sesungguhnya Nabi saw membaca ayat ini: “bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Rasulullah saw bersabda:

“Sekiranya setitis zaqum menitis ke dunia nescaya akan merosakkan seluruh kehidupan ahli dunia. Bagaimana keadaan orang yang setiap hari buah zaqum menjadi makanannya?”

Hadis riwayat Tirmizi, Nasaie, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syekh Syuaib menyatakan sanad hadis ini sahih.Imam Ibnu Kathir berkata: “Allah swt menyatakan mereka memakan pokok ini walaupun rupanya sangat buruk dan sangat hodoh. Tambahan lagi dengan rasanya yang tidak sedap dan bau yang busuk. Mereka terpaksa makan kerana tidak ada yang lain.”

(2) GISLIN

Firman Allah swt: Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di neraka ini Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (35-37 : al-Haqqah).

Ulama berselisih pendapat terhadap hakikat Gislin seperti berikut:
1~ Nanah ahli neraka yang keluar dari luka dan kemaluan mereka. (Ibnu Abbas)
2~ Pohon yang menjadi makanan ahli neraka. (Dahhak dan Rabie bin Anas)
3~ Air dari basuhan daging dan darah ahli neraka. (Akhfasy)

(3) DARIE’
Firman Allah swt:

Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri. yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. ( 6 dan 7 : al-Ghasiah)

Para Ulama berselisih pendapat terhadap Darie’. Diantaranya adalah seperti berikut:

1~ Tumbuhan yang berduri yang melata di tanah. (Pendapat Ikrimah, Mujahid dan kebanyakan ulama tafsir).
2~ Batu (pendapat Said bin Jubair).
3~ Tumbuhan hijau yang busuk. Ianya dilemparkan laut ke daratan. (pendapat Khalil).
4~ Pohon berasal dari api neraka. (Pendapat Ibnu Abbas)

Pendapat yang dipilih adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Qurtubi:
“Pendapat yang lebih jelas adalah ianya pokok yang berduri seperti ianya di dunia. Daripada Ibnu Abbas ra,

Nabi saw bersabda: “ Darie adalah sesuatu yang ada dalam neraka. Ia meyerupai duri. Lebih pahit dari pokok lidah buaya. Lebih busuk dari bangkai. Lebih panas dari api. Allah swt namakannya sebagai Darie.” (Hadis riwayat Ibnu Mardawiyah – sanadnya lemah)

MAKANAN YANG SUKAR UNTUK DITELAN

Kerana sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyebabkan tercekik di kerongkong dan azab yang pedih. (12 – 13 : al-Haqqah)

Ibnu Abbas berkata:

“Makanan yang tidak boleh ditelan dan tersangkut di halkum. Tidak boleh turun ke perut dan tidak boleh dikeluarkan. Makanan ini adalah Gislin, Zaqqum dan Dharie.”

KELAPARAN YANG MENSIKSA

Abu Darda berkata: Rasulullah saw bersabda: “ Dicampakkan rasa lapar kepada ahli neraka. Kelaparan yang mereka rasai menyamai azab yang mereka alami dalam neraka. Lalu mereka menjerit meminta tolong dan mereka pun diberikan Darie yang tidak menghilangkan kelaparan mereka. Lalu mereka menjerit meminta makanan dan mereka pun dibawa makanan yang menyebabkan mereka tercekik.

Mereka teringat kalau tercekik didunia mereka hilangkan dengan air. Mereka pun meminta air minuman. Lalu mereka diberi air yang sangat panas dengan besi-besi panjang yang berkapala sabit. Muka mereka hangus terbakar apabila air ini menghampiri mereka. Segala isi perut terputus apabila masuk kedalam perut mereka.”

Hadis riwayat Tirmizi dengan sanad yang lemah. Kebanyakan apa yang disebut dalam hadis ini ada disebut dalam ayat Quran dan Hadis sahih yang lain.

SUMBER;
Tafsir Qurtubi, Tafsir Ibnu Kathir, Tuhfatul Ahwazi, Sunan Tirmizi tahqiq syeikh Syuaib, Muntaqa oleh Dr Yusuf Qardawi, Tazkirah oleh Qurtubi, Buhur Zahirah oleh Imam as-Safirani.

Shalawat dengan 201 Nama Rasulullah Saw.

Berikut adalah tata cara membaca shalawat dengan 201 Nama Rasululllah Saw. yang disadur dari kitab Dalailul Khairat. Sengaja kami tuliskan menggunakan huruf Indonesia meneruskan edisi sebelumnya yang menggunakan huruf Arab, agar lebih mudah dibaca bagi handphone-handphone yang belum pernah mondok dan atau bagi yang belum bisa membaca dan menulis Arab.:

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin. Wahasbiyallaahu wa ni'mal wakiil. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'adziim. Allaahumma innii ubri-u ilaika min hauli wa quwwati ilaa haulika wa quwwatika. Allaahumma innii aqrabu ilaika bish-shalaati 'alaa sayyidinaa Muhammadin 'abdika wa nabiyyika wa rasuulika sayyidil mursaliin shallallaahu 'alaihi wa 'alaihim ajma'iina imtitsaalan li amrika wa tash-diiqan lahu mahabbatan fiihi wa syauqan ilaihi wa sallama ahlan lidzaalika fataqabbalhaa minnii bifadhlika waj'alnii min 'ibaadikashshaalihiin. Wawaffiqnii liqira-atika 'aladdawaami bijaahihi 'indaka wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihii ajma'iin.
Allaahumma shalli wasallim 'alaa man ismuhuu:
1. Sayyiduna Muhammad,
2. Sayyiduna Ahmad,
3. Sayyiduna Haamid,
4. Sayyiduna Mahmuud,
5. Sayyiduna Ahiid,
6. Sayyiduna Wahiid,
7. Sayyiduna Maahin ,
8. Sayyiduna Haasyir,
9. Sayyiduna 'Aaqib,
10. Sayyiduna Thaaha,
11. Sayyiduna Yaasiin,
12. Sayyiduna Thaahir,
13. Sayyiduna Muthahhir,
14. Sayyiduna Thayyib,
15. Sayyiduna Sayyid,
16. Sayyiduna Rasuul,
17. Sayyiduna Nabiyi,
18. Sayyiduna Rasuulurrahmah,
19. Sayyiduna Qayyim,
20. Sayyiduna Jaami',
21. Sayyiduna Muqtafi,
22. Sayyiduna Muqaffa,
23. Sayyiduna Rasuulul Malaahim,
24. Sayyiduna Rasulurraahah,
25. Sayyiduna Kaamil,
26. Sayyiduna Ikliil,
27. Sayyiduna Muzammil,
28. Sayyiduna 'Abdullaah,
29. Sayyiduna Habiibullaah,
30. Sayyiduna Shafiyyullaah,
31. Sayyiduna Najiyyullaah,
32. Sayyiduna Kaliimullaah,
33. Sayyiduna Khaatamul Anbiya,
34. Sayyiduna Khaatamurrusli,
35. Sayyiduna Muhyii,
36. Sayyiduna Munjin,
37. Sayyiduna Mudzakkir,
38. Sayyiduna Naashir,
39. Sayyiduna Manshuur
40. Sayyiduna Nabiyyurrahmah,
41. Sayyiduna Nabiyyuttaubah,
42. Sayyiduna Hariishun 'alaikum,
43. Sayyiduna Ma'luum,
44. Sayyiduna Syaahir,
45. Sayyiduna Syaahid,
46. Sayyiduna Syahiid,
47. Sayyiduna Masyhuud,
48. Sayyiduna Basyiir,
49. Sayyiduna Mubasysyir,
50. Sayyiduna Nadziir,
51. Sayyiduna Mundziir,
52. Sayyiduna Nuur,
53. Sayyiduna Siraaj,
54. Sayyiduna Mishbaah,
55. Sayyiduna Hudaa,
56. Sayyiduna Mahdiy,
57. Sayyiduna Muniir,
58. Sayyiduna Daa'in,
59. Sayyiduna Mad'uu,
60. Sayyiduna Mujiib,
61. Sayyiduna Mujaab,
62. Sayyiduna Hafiyy,
63. Sayyiduna 'Afuwwu,
64. Sayyiduna Waliyy,
65. Sayyiduna Haqq,
66. Sayyiduna Qawiyy,
67. Sayyiduna Amiin,
68. Sayyiduna Ma-muun,
69. Sayyiduna Kariim,
70. Sayyiduna Mukarram,
71. Sayyiduna Makiin,
72. Sayyiduna Matiin,
73. Sayyiduna Mubiin,
74. Sayyiduna Muammil,
75. Sayyiduna Wushuul,
76. Sayyiduna Dzuu Quwwah,
77. Sayyiduna Dzuu Hurmah,
78. Sayyiduna Dzuu Makaanah,
79. Sayyiduna Dzuu 'Izzin,
80. Sayyiduna Dzuu Fadhl,
81. Sayyiduna Muthaa',
82. Sayyiduna Muthii',
83. Sayyiduna Qadam,
84. Sayyiduna Shidqun,
85. Sayyiduna Rahmah,
86. Sayyiduna Busyraa,
87. Sayyiduna Ghauts,
88. Sayyiduna Ghaits,
89. Sayyiduna Ghiyaats,
90. Sayyiduna Ni'matullaah,
91. Sayyiduna Hidaayatullaah,
92. Sayyiduna ‘Urwatul Wutsqaa,
93. Sayyiduna Shiraatullaah,
94. Sayyiduna Shiraathun Mustaqiim,
95. Sayyiduna Dzikrullaah,
96. Sayyiduna Saifullaah,
97. Sayyiduna Hizbullaah,
98. Sayyiduna An-Najmuts Tsaaqib,
99. Sayyiduna Musthafaa,
100. Sayyiduna Mujtabaa,
101. Sayyiduna Muntaqaa,
102. Sayyiduna Ummiy,
103. Sayyiduna Mukhtaar,
104. Sayyiduna Ajiir,
105. Sayyiduna Jabbaar,
106. Sayyiduna Abul Qaasim,
107. Sayyiduna Abuth Thaahir,
108. Sayyiduna Abuth Thayyib,
109. Sayyiduna Abu Ibraahiim,
110. Sayyiduna Musyaffa',
111. Sayyiduna Syafii',
112. Sayyiduna Shaalih,
113. Sayyiduna Mushlih,
114. Sayyiduna Muhaimin,
115. Sayyiduna Shaadiq,
116. Sayyiduna Mushaddiq,
117. Sayyiduna Shidq,
118. Sayyiduna Sayyidul Mursaliin,
119. Sayyiduna Imaamul Muttaqiin,
120. Sayyiduna Qaidul Ghurril Muhajjaliin,
121. Sayyiduna Khaliilur Rahmaan,
122. Sayyiduna Baa-rri,
123. Sayyiduna Mubarru,
124. Sayyiduna Wajiih,
125. Sayyiduna Nashiih,
126. Sayyiduna Naashih,
127. Sayyiduna Wakiil,
128. Sayyiduna Mutawakil,
129. Sayyiduna Kafiil,
130. Sayyiduna Syafiiq,
131. Sayyiduna Muqiimus Sunnah,
132. Sayyiduna Muqaddas,
133. Sayyiduna Ruuhul Qudus,
134. Sayyiduna Ruuhul Haqqi,
135. Sayyiduna Ruuhul Qisthi,
136. Sayyiduna Kaafin,
137. Sayyiduna Muktafi,
138. Sayyiduna Baliigh,
139. Sayyiduna Muballigh,
140. Sayyiduna Syaafin,
141. Sayyiduna Waashil,
142. Sayyiduna Maushuul,
143. Sayyiduna Saa-iq,
144. Sayyiduna Haadin,
145. Sayyiduna Muhdin,
146. Sayyiduna Muqaddam,
147. Sayyiduna 'Aziiz,
148. Sayyiduna Faadhil,
149. Sayyiduna Mufadhdhal,
150. Sayyiduna Faatih,
151. Sayyiduna Miftaah,
152. Sayyiduna Miftaahur Rahmah,
153. Sayyiduna Miftaahul Jannah,
154. Sayyiduna 'Alamul Iimaan,
155. Sayyiduna 'Alamul Yaqiin,
156. Sayyiduna Daliilul Khairaat,
157. Sayyiduna Mushahhihul Hasanaat,
158. Sayyiduna Muqiilul 'Atsaraat,
159. Shafuuhun 'aniz-Zallaat,
160. Shaahibusy Syafaa’aat,
161. Sayyiduna Shaahibul Maqaam,
162. Sayyiduna Shahuubul Qadam,
163. Sayyiduna Makhshuushun bil 'Izzi,
164. Sayyiduna Makhshuushun bil Majdi,
165. Sayyiduna Makhshuushun bisy Syarafi,
166. Sayyiduna Shaahibul Wasiilah,
167. Sayyiduna Shaahibus Saifi,
168. Sayyiduna Shaahibul Fadhiilah
169. Sayyiduna Shaahibul Izaar,
170. Sayyiduna Shaahibul Hujjah,
171. Sayyiduna Shaahibus Sulthaan,
172. Sayyiduna Shaahibur Riddaa-i,
173. Sayyiduna Shaahibud Darajatir Raafi’ah
174. Sayyiduna Shaahibut Taaj
175. Sayyiduna Shaahibul Mighfaar
176. Sayyiduna Shaahibul Liwaa-i
177. Sayyiduna Shaahibul Mi'raaj
178. Sayyiduna Shaahibul Qadhiib,
179. Sayyiduna Shaahibul Buraaq,
180. Sayyiduna Shaahibul Khaatim,
181. Sayyiduna Shaahibul 'Allaamah,
182. Sayyiduna Shaahibul Burhaan,
183. Sayyiduna Shaahibul Bayaan,
184. Sayyiduna Fashiihul Lisan,
185. Sayyiduna Muthahhirul Janaan,
186. Sayyiduna Ra-uufun,
187. Sayyiduna Rahiim,
188. Sayyiduna Udzunul Khair,
189. Sayyiduna Shahiihul Islaam,
190. Sayyiduna Sayyidul Kaunain,
191. Sayyiduna ‘Ainun Na'iim,
192. Sayyiduna ‘Ainul Ghurri,
193. Sayyiduna Sa'dullah,
194. Sayyiduna Sa'dul Khalqi,
195. Sayyiduna Khaathibul Umam,
196. Sayyiduna 'Alamul Huda,
197. Sayyiduna Kasyiiful Kurab,
198. Sayyiduna Rafii'ur Rutab,
199. Sayyiduna 'Izzul 'Arab,
200. Sayyiduna Shaahibul Faraj,
201. Sayyiduna Kariimul Makhraj

Sayyiduna Asyraful Anbiyaa wal Mursaliin. Walhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.
Allaahumma yaa Rabbi bijaahi nabiyyikal musthafa warasuulikal murthadha thahhir quluubanaa min kulli washfin yubaa'iduna 'an musyaahadatika wamahhabatika wa amitnaa 'alas sunnati wal jamaa'ati wasysyauqi ilaa liqaa-ika yaa dzal jalaali wal ikraam. Washallallaahu 'alaa sayyidinaa wasallama tasliiman walhamdulillaahi rabbil 'aalamin.

NB: Setiap kali menyebut asma Rasulullah haruslah diiringi dengan “Shallallaahu ‘alaihi wassallam

pesan RASULULLAH SAW kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A

Pesan Baginda Yang Mulya Rasulullah Saw
Kepada Imam Ali bin Abi Thalib R.A
Rasulullah SAW bersabda kepada
menantunya, Ali r.a. , ” Wahai ‘Ali, setiap
sesuatu pasti ada penyakitnya.
Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum
kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap
pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah
membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan
diri,
penyakit kaya adalah kikir,
penyakit agama adalah nafsu yang
diperturutkan….”
Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib
r.a. Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga
ciri, yaitu : rajin
beribadah ketika dilihat orang, malas ketika
sendirian dan ingin
mendapat pujian dalam segala perkara. “
Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka
berdo’alah, ” Ya Allah, jadikanlah
diriku lebih baik daripada yang
dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku
yang tersembunyi darinya, dan janganlah
kata-katanya mengakibatkan
siksaan bagiku…”
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati
hati yang sedang resah dan gundah gulana,
Ibnu
Mas’ud r.a berkata, ” Dengarkanlah bacaan
Al-Qur’an atau datanglah ke
majelis-majelis dzikir atau pergilah ke
tempat yang sunyi untuk
berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum
terobati juga, maka mintalah
kepada Allah SWT hati yang lain, karena
sesungguhnya hati yang kamu
pakai bukan lagi hatimu…”

ceramah Syeikh Abdul Qadir `Al-Jailani

Al Arif Billah Al Allamah Al Musnid Habib
Umar bin Hafidz
( inti ceramah bukan pada susunan kalimat,
tapi pada kesucian hati dan sifat sidiq si
pembicara.)
Ketika Seorang Wali Allah swt
Berceramah..
Syeikh Abdul Qadir `Al-Jailani sangat
masyhur kewaliannya, seorang dengan
berbagai julukan, qutb rabbani, seorang sufi
yang agung, seorang yang sangat mencintai
dan dicintai Allah dan sayyidina
Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
Beliau bila berceramah menggunakan
bahasa yang sangat sederhana, anak beliau
yang telah menimba ilmu dan gemar
berceramah satu ketika berkata di dalam
hatinya jika diizinkan berceramah tentu aku
akan berceramah dan membuat para
hadirin akan menangis.
Suatu hari syeikh Abdul Qadir Al Jailani
ingin mendidik putranya, dan berkata wahai
putraku, bangkitlah dan berceramahlah....
Si anak kemudian berceramah dengan
sangat bagus, namun tidak ada seorangpun
yang menangis apalagi khusus`, para
hadirin merasa bosan mendengar
ceramahnya, padahal si anak telah banyak
mengeluarkan Al Quran dan hadis nabawi
Setelah selesai, maka naiklah syeikh Abdul
qadir ke atas mimbar lalu berkata:
“Para hadirin, tadi malam istriku,
menghidangkan ayam panggang yang
sangat lezat, tetapi tiba-tiba datang seekor
kucing dan memakannya.”
Mendengar ucapan ini, para hadirin
menjerit, menangis..
Aneh...aku bacakan Al-qur`na, hadis nabi,
syair dan berbagai akbar tak seorangpun
yang menangis. Tapi ketika ayahku
menyampaikan ucapan yang tidak ada
artinya, mereka justru menangis. Sungguh
aneh, apa penyebabnya?
Al Arif Billah Al Allamah Al Musnid Habib
Umar bin Hafidz menjelaskan inti ceramah
bukan pada susunan kalimat, tapi pada
kesucian hati dan sifat sidiq si pembicara.
Sewaktu syeikh Abdul qadir al jailani
berceramah, para hadirin yang menangis
mengartikan kucing dalam cerita beliau
sebagai “Setan” yang mencuri amal anak
cucu Adam dengan cara menimbulkan
sikap Riya`, Ujub, sombong.
Ada pula para hadirin yang menangis,
menjerit mengartikan seseorang yang wafat
dalam keadaan Su`ul khatimah, yakni ia
membayangkan seseorang yang banyak
beramal shalih namun di akhir hayatnya
berakhir dengan su`ul khatimah (wafat
dalam keadaan buruk)
Mereka semua menangis dan merasa takut
kepada Allah Ta`ala hanya karena ucapan
biasa.
Sesungguhnya ucapan biasa itu telah
membuat mereka berpikir, menerbitkan
cahaya di hati mereka, berkat cahaya yang
memancar di hati syeikh Abdul Qadir Al
Jailani
Wallahu`alam

Kisah Al Habib Ali Al Habsyi(kwitang) Dan Sarungnya

Allah Bayar Tunai Satu Sarung Dengan Satu Truk Sarung

Semasa hidup Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang dan dalam keadaan sehatnya, beliau senantiasa melaksanakan shalat lima waktu di masjidnya, yang tidak jauh dari kediamannya.

Suatu hari tatkala Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi akan menunaikan Shalat Dzuhur berjamaah di masjid, datanglah seorang pengemis yang berpapasan dengan Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi di depan rumah beliau.

“Apa yang bisa saya bantu untuk anda?” Ujar Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi kepada pengemis itu.

Dijawab oleh pengemis: “saya butuh sarung.”

“Maaf saya belum punya yang baru, bagaimana kalau minta yang lainnya?” Iba al-habib ali bin abdurrahman al-habsyi pada waktu itu.

Kata si pengemis: “tidak. Saya hanya mau sarung! Dan sarungnya yang engkau pakai ya habib!”

“Tidakkah bisa minta yang lainnya? Karena saya ingin segera ke masjid. Bersediakah yang lainnya saja?” Begitu Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi menimpali.

Lalu si pengemis itu berkata: “katanya engkau seorang habib, katanya kau Ali Habsyi, mana Ali Habsyi yang saya dengar?”

Mendengar yang demikian itu kemudian Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi berkata kepada pengemis: “tunggulah sebentar saya ke dalam dulu.”

Dengan bergegas Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi masuk ke dalam rumahnya untuk menemui istrinya. Lalu beliau bertanya pada sang istri: “wahai istriku, apa masih ada sarung di lemari?”

“Tidak ada ya Abah. Sarungnya lagi dicuci, baru saja saya jemur.” Sahut sang istri.

“Ada juga sarung buat saya pakai sehari-hari.” Tambah sang istri menjawab.

Lalu Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi berkata lagi pada istrinya: “sudah ambilkan saja sarungmu buat kupakai untuk sembahyang.”

Beranjak sang istri mengambil sarungnya di lemari untuk diserahkan pada sang suami, sambil penuh tanya: “ya abah ini gak salah? Ini sarung buat wanita, bedakan sarung buat lelaki dan wanita? Dan yang abah pakai bukannya masih bersih?”

Dijawab oleh Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi: “iya, ini sarung yang saya kenakan ternyata ada peminatnya, jadi harus segera kuserahkan. Dan sarungmu ini biar sementara saya kenakan buat sembahyang.”

Setelah rapi melipat dan membungkus kain sarungnya, Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi bergegas memberikannya kepada pengemis itu seraya berkata: “ini sarungnya semoga manfaat.”

Kemuduian dijawab oleh si pengemis: “ini baru Ali Habsyi. Semoga Allah berikan yang berlipat.”

Lalu pengemis itu pamit kepada Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi untuk undur diri. Akhirnya Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi pun menuju ke masjid dengan mengenakan sarung khusus wanita bermotif kembang-kembang namun tertutup oleh jubahnya, hingga orang pun tidak memperhatikannya.

Setelah selesai memimpin shalat, Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi beranjak menuju ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah, Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi mendapati satu buah mobil truk besar sedang menurunkan beratus-ratus sarung. Lalu Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi pun bertanya-tanya: “ini punya siapa?”

Dijawab oleh sopir mobil truk itu: “ini hadiah sarung dari surabaya untuk Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang.”

Mendengar jawaban dari sopir tadi Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi hanya bisa berucap: “Allah telah berikan kontan.”


sumber : https://www.facebook.com/afud.duank?fref=ts