1. Maulana Malik Ibrahim
Lokasi :Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan,Gresik, Jawa Timur. Latar Belakang Sejarah :
Maulana Malik Ibrahim juga disebut sebagai Sunan Gresik, atau terkadang Syekh Maghribi dan
Makdum Ibrahim As-Samarqandy.
Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand di Asia
Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi,
mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarqandy, berubah menjadi Asmarakandi.Sebagian cerita rakyat, ada pula yang menyebutnya dengan panggilan Kakek Bantal.Maulana Malik Ibrahim adalah wali pertama yang membawakan Islam di tanah Jawa. Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru
bercocok tanam. Ia banyak merangkul
rakyat
kebanyakan, yaitu golongan yang
tersisihkan dalam
masyarakat Jawa di akhir kekuasaan
Majapahit.
Misinya ialah mencari tempat di hati
masyarakat
sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis
ekonomi dan perang saudara. Pada tahun
1419,
setelah selesai membangun dan menata
pondokan
tempat belajar agama di Leran, Maulana
Malik
Ibrahim wafat. Maulana Malik Ibrahim
adalah sosok
penyebar agama Islam di tanah Jawa dan
merupakan wali tertua dari kesembilan
wali. Di
dalam kompleks makam ini terdapat
makam -
makam keluarga dan umum.
Deskripsi Bangunan :
Bangunan dari Makam Maulana Malik
Ibrahin
mempunyai kekhasan tersendiri, hal ini
terlihat dari
baha batu nisan dan gaya tulisan Arab.
Batu Nisan
terbuat dari marmer dengan gaya Gujarat.
2.Sunan Ampel atau Raden Rahmat
Lokasi :
Lokasi makam Sunan Ampel terletak
didalam
komplek masjid Jami Ampel di Surabaya
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat
adalah
putra Maulana Malik Ibrahim, Muballigh
yang
bertugas dakwah di Champa, dengan ibu
putri
Champa. Jadi, terdapat kemungkinan Sunan
Ampel
memiliki darah Uzbekistan dari ayahnya
dan
Champa dari ibunya. Sunan Ampel adalah
tokoh
utama penyebaran Islam di tanah Jawa,
khususnya
untuk Surabaya dan daerah-daerah
sekitarnya.
Deskripsi Bangunan :
Didepan makam ada dua pintu gerbang
besar
bergaya Eropa. Makamnya terpisah dengan
dari
makam lainnya dan diberi pagar teralis dari
besi
setinggi 110 cm. Diarah kaki (bagian
selatan) ada
pintu yang dapat dibuka dan ditutup yang
dilengkapi dengan kunci gembok. Jiratnya
disusun
empat tingkat dan nisannya bagian atas
berbentuk
seperti daun teratai. Pada sisi jiat bagian
selatan
dituliskan keterangan diri tentang Sunan
Ampel
dalam aksara Latin.
3.Sunan Bonang atau Raden Makhdum
Ibrahim
Lokasi :
Lokasi Makam Sunan Bonang terletak di
Bonang
adalah desa di kecamatan Panyingkiran,
Majalengka, Jawa Barat, Indonesia
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465,
dengan
nama Raden Maulana Makdum Ibrahim.
Dia adalah
putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.
Bonang
adalah sebuah desa di kabupaten Jepara.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M,
dan saat
ini makam aslinya berada di Desa Bonang.
Namun,
yang sering diziarahi adalah makamnya di
kota
Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada
dua
karena konon, saat beliau meninggal, kabar
wafatnya beliau sampai pada seorang
muridnya
yang berasal dari Madura. Sang murid
sangat
mengagumi beliau sampai ingin membawa
jenazah
beliau ke Madura. Namun, murid tersebut
tak
dapat membawanya dan hanya dapat
membawa
kain kafan dan pakaian-pakaian beliau.
Saat
melewati Tuban, ada seorang murid Sunan
Bonang
yang berasal dari Tuban yang mendengar
ada
murid dari Madura yang membawa jenazah
Sunan
Bonang. Mereka memperebutkannya.
4.Sunan Drajat atau Raden Qasim
Lokasi :
Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari
surabaya maupun Tuban lewat Jalan
Dandeles
( Anyer - Panarukan ), namun bila lewat
Lamongan
dapat ditempuh 30 menit dengan kendaran
pribadi.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun
1470.
Nama kecilnya adalah Raden Qasim,
kemudian
mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia
adalah putra
dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan
Sunan
Bonang.Ketika dewasa, Sunan Drajat
mendirikan
pesantren Dalem Duwur di desa Drajat,
Paciran,
Lamongan.
Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil
Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan
Ampel
dan terkenal dengan kecerdasannya.
Setelah
menguasai pelajaran islam beliau
menyebarkan
agama islam di desa Drajad sebagai tanah
perdikan
dikecamatan Paciran. Tempat ini diberikan
oleh
kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan
Mayang
Madu oleh Raden Patah pada tahun saka
1442/1520
masehi.
5.Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq
Lokasi :
Jafar Shodiq atau Sunan Kudus
dimakamkan di
Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa
Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten
Kudus,
Provinsi Jawa Tengah. Di samping puluhan
makam
di kawasan itu terdapat pula makam putra
Sunan
Kudus yaitu Pangeran Palembang. Makam
Sunan
Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah
bangunan
induk berbentuk joglo.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama
Jaffar
Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan
Sunan
Ngudung, adalah panglima perang
Kesultanan
Demak Bintoro, dan Syarifah, adik dari
Sunan
Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat
pada
tahun 1550.Sunan Kudus pernah menjabat
sebagai
panglima perang untuk Kesultanan
Demak,dan dalam masa pemerintahan
Sunan Prawoto,
dia menjadi penasihat bagi Arya
Penangsang. Selain
sebagai panglima perang untuk Kesultanan
Demak,
Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim
pengadilan bagi Kesultanan Demak.
Dalam melakukan dakwah penyebaran
Islam di
Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi
sebagai
sarana penarik masyarakat untuk datang
untuk
mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus
juga
membangun Menara Kudus yang
merupakan
gabungan kebudayaan Islam dan Hindu
yang juga
terdapat Masjid yang disebut Masjid
Menara
Kudus.Pada tahun 1530, Sunan Kudus
mendirikan
sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus
Kulon, yang
kini terkenal dengan nama Masjid Agung
Kudus
dan masih bertahan hingga sekarang.
Sekarang Masjid Agung Kudus berada di
alun-alun
kota Kudus, Jawa Tengah.Peninggalan lain
dari
Sunan Kudus adalah permintaannya kepada
masyarakat untuk tidak memotong hewan
kurban
sapi dalam perayaan Idul Adha untuk
menghormati
masyarakat penganut agama Hindu dengan
mengganti kurban sapi dengan memotong
kurban
kerbau, pesan untuk memotong kurban
kerbau ini
masih banyak ditaati oleh masyarakat
Kudus
hingga saat ini.
6.Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul
Yaqin
Lokasi :
Beliau dimakamkan di desa Giri, Kebomas,
Gresik.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Giri adalah nama salah seorang
Walisongo
dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang
berkedudukan di daerah Gresik, Jawa
Timur. Ia
lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri
memiliki
beberapa nama panggilan, yaitu Raden
Paku,
Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden
Ainul
Yaqin dan Jaka Samudra.
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
Lokasi :
Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa
Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara).
Makam ini
hingga sekarang masih ramai diziarahi
orang.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada
tahun 1450
dengan nama Raden Said. Dia adalah putra
adipati
Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta
atau
Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga
antara lain
Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban,
dan
Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu
versi
masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal
dari
Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan
Kalijaga
berdiam di sana, dia sering berendam di
sungai
(kali), atau jaga kali. Dalam satu riwayat,
Sunan
Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi
Saroh
binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3
putra: R.
Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh
dan Dewi
Sofiah.
8.Sunan Muria atau Raden Umar Said
Lokasi :
Makam Sunan Muria di Desa Colo,
Kecamatan
Dawe. Ziarah ke makam Sunan Muria yang
berjarak sekitar 30 kilometer arah utara
dari
KMMK (Kompleks Masjid Menara Kudus)
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Muria dilahirkan dengan nama
Raden Umar
Said atau Raden Said. Menurut beberapa
riwayat,
dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang
menikah
dengan Dewi Soejinah, putri Sunan
Ngudung.Nama
Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal
dari nama
gunung (Gunung Muria), yang terletak di
sebelah
utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat dia
dimakamkan.
9.Sunan Gunung Jati atau Syarif
Hidayatullah
Lokasi :
Kawasan Perziarahan makam Sunan
Gunung Jati
yang terletak di desa Astana kecamatan
Cirebon
Utara, sekitar 6 km dari Kota Cirebon yang
di
lintasi jalur Cirebon Indramayu. Kawasan
ini telah
di kenal luas,bahkan hingga ke
mancanegara.
kawasan ini potensial untuk di tingkatkan
menjadi
obyek wisata utama,dan tempat ziarah di
Cirebon
pada khususnya dan untuk pengunjung luar
juga
pada umumnya, di samping tetap
melestarikan
sebagai tempat peziarahan.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
adalah
putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam
putra
Syekh Jamaluddin Akbar. Di titik ini (Syekh
Jamaluddin Akbar Gujarat) bertemulah
garis nasab
Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati.
Ibunda Sunan
Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang,
seorang
putri keturunan keraton Pajajaran, anak
dari Sri
Baduga Maharaja, atau dikenal juga
sebagai Prabu
Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai
Subang
Larang. Makam dari Nyai Rara Santang
bisa kita
temui di dalam klenteng di Pasar Bogor,
berdekatan dengan pintu masuk Kebun
Raya
Bogor..
*semoga qt bisa menziarahi semuanya,,,ada waktunya,,sehatnya,,dan rezekinya..aminn
Lokasi :Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan,Gresik, Jawa Timur. Latar Belakang Sejarah :
Maulana Malik Ibrahim juga disebut sebagai Sunan Gresik, atau terkadang Syekh Maghribi dan
Makdum Ibrahim As-Samarqandy.
Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir di Samarkand di Asia
Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi,
mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarqandy, berubah menjadi Asmarakandi.Sebagian cerita rakyat, ada pula yang menyebutnya dengan panggilan Kakek Bantal.Maulana Malik Ibrahim adalah wali pertama yang membawakan Islam di tanah Jawa. Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru
bercocok tanam. Ia banyak merangkul
rakyat
kebanyakan, yaitu golongan yang
tersisihkan dalam
masyarakat Jawa di akhir kekuasaan
Majapahit.
Misinya ialah mencari tempat di hati
masyarakat
sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis
ekonomi dan perang saudara. Pada tahun
1419,
setelah selesai membangun dan menata
pondokan
tempat belajar agama di Leran, Maulana
Malik
Ibrahim wafat. Maulana Malik Ibrahim
adalah sosok
penyebar agama Islam di tanah Jawa dan
merupakan wali tertua dari kesembilan
wali. Di
dalam kompleks makam ini terdapat
makam -
makam keluarga dan umum.
Deskripsi Bangunan :
Bangunan dari Makam Maulana Malik
Ibrahin
mempunyai kekhasan tersendiri, hal ini
terlihat dari
baha batu nisan dan gaya tulisan Arab.
Batu Nisan
terbuat dari marmer dengan gaya Gujarat.
2.Sunan Ampel atau Raden Rahmat
Lokasi :
Lokasi makam Sunan Ampel terletak
didalam
komplek masjid Jami Ampel di Surabaya
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat
adalah
putra Maulana Malik Ibrahim, Muballigh
yang
bertugas dakwah di Champa, dengan ibu
putri
Champa. Jadi, terdapat kemungkinan Sunan
Ampel
memiliki darah Uzbekistan dari ayahnya
dan
Champa dari ibunya. Sunan Ampel adalah
tokoh
utama penyebaran Islam di tanah Jawa,
khususnya
untuk Surabaya dan daerah-daerah
sekitarnya.
Deskripsi Bangunan :
Didepan makam ada dua pintu gerbang
besar
bergaya Eropa. Makamnya terpisah dengan
dari
makam lainnya dan diberi pagar teralis dari
besi
setinggi 110 cm. Diarah kaki (bagian
selatan) ada
pintu yang dapat dibuka dan ditutup yang
dilengkapi dengan kunci gembok. Jiratnya
disusun
empat tingkat dan nisannya bagian atas
berbentuk
seperti daun teratai. Pada sisi jiat bagian
selatan
dituliskan keterangan diri tentang Sunan
Ampel
dalam aksara Latin.
3.Sunan Bonang atau Raden Makhdum
Ibrahim
Lokasi :
Lokasi Makam Sunan Bonang terletak di
Bonang
adalah desa di kecamatan Panyingkiran,
Majalengka, Jawa Barat, Indonesia
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465,
dengan
nama Raden Maulana Makdum Ibrahim.
Dia adalah
putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.
Bonang
adalah sebuah desa di kabupaten Jepara.
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M,
dan saat
ini makam aslinya berada di Desa Bonang.
Namun,
yang sering diziarahi adalah makamnya di
kota
Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada
dua
karena konon, saat beliau meninggal, kabar
wafatnya beliau sampai pada seorang
muridnya
yang berasal dari Madura. Sang murid
sangat
mengagumi beliau sampai ingin membawa
jenazah
beliau ke Madura. Namun, murid tersebut
tak
dapat membawanya dan hanya dapat
membawa
kain kafan dan pakaian-pakaian beliau.
Saat
melewati Tuban, ada seorang murid Sunan
Bonang
yang berasal dari Tuban yang mendengar
ada
murid dari Madura yang membawa jenazah
Sunan
Bonang. Mereka memperebutkannya.
4.Sunan Drajat atau Raden Qasim
Lokasi :
Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari
surabaya maupun Tuban lewat Jalan
Dandeles
( Anyer - Panarukan ), namun bila lewat
Lamongan
dapat ditempuh 30 menit dengan kendaran
pribadi.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun
1470.
Nama kecilnya adalah Raden Qasim,
kemudian
mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia
adalah putra
dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan
Sunan
Bonang.Ketika dewasa, Sunan Drajat
mendirikan
pesantren Dalem Duwur di desa Drajat,
Paciran,
Lamongan.
Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil
Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan
Ampel
dan terkenal dengan kecerdasannya.
Setelah
menguasai pelajaran islam beliau
menyebarkan
agama islam di desa Drajad sebagai tanah
perdikan
dikecamatan Paciran. Tempat ini diberikan
oleh
kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan
Mayang
Madu oleh Raden Patah pada tahun saka
1442/1520
masehi.
5.Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq
Lokasi :
Jafar Shodiq atau Sunan Kudus
dimakamkan di
Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa
Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten
Kudus,
Provinsi Jawa Tengah. Di samping puluhan
makam
di kawasan itu terdapat pula makam putra
Sunan
Kudus yaitu Pangeran Palembang. Makam
Sunan
Kudus sendiri terdapat di tengah-tengah
bangunan
induk berbentuk joglo.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama
Jaffar
Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan
Sunan
Ngudung, adalah panglima perang
Kesultanan
Demak Bintoro, dan Syarifah, adik dari
Sunan
Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat
pada
tahun 1550.Sunan Kudus pernah menjabat
sebagai
panglima perang untuk Kesultanan
Demak,dan dalam masa pemerintahan
Sunan Prawoto,
dia menjadi penasihat bagi Arya
Penangsang. Selain
sebagai panglima perang untuk Kesultanan
Demak,
Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim
pengadilan bagi Kesultanan Demak.
Dalam melakukan dakwah penyebaran
Islam di
Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi
sebagai
sarana penarik masyarakat untuk datang
untuk
mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus
juga
membangun Menara Kudus yang
merupakan
gabungan kebudayaan Islam dan Hindu
yang juga
terdapat Masjid yang disebut Masjid
Menara
Kudus.Pada tahun 1530, Sunan Kudus
mendirikan
sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus
Kulon, yang
kini terkenal dengan nama Masjid Agung
Kudus
dan masih bertahan hingga sekarang.
Sekarang Masjid Agung Kudus berada di
alun-alun
kota Kudus, Jawa Tengah.Peninggalan lain
dari
Sunan Kudus adalah permintaannya kepada
masyarakat untuk tidak memotong hewan
kurban
sapi dalam perayaan Idul Adha untuk
menghormati
masyarakat penganut agama Hindu dengan
mengganti kurban sapi dengan memotong
kurban
kerbau, pesan untuk memotong kurban
kerbau ini
masih banyak ditaati oleh masyarakat
Kudus
hingga saat ini.
6.Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul
Yaqin
Lokasi :
Beliau dimakamkan di desa Giri, Kebomas,
Gresik.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Giri adalah nama salah seorang
Walisongo
dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang
berkedudukan di daerah Gresik, Jawa
Timur. Ia
lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri
memiliki
beberapa nama panggilan, yaitu Raden
Paku,
Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden
Ainul
Yaqin dan Jaka Samudra.
7. Sunan Kalijaga atau Raden Said
Lokasi :
Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa
Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara).
Makam ini
hingga sekarang masih ramai diziarahi
orang.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada
tahun 1450
dengan nama Raden Said. Dia adalah putra
adipati
Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta
atau
Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga
antara lain
Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban,
dan
Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu
versi
masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal
dari
Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan
Kalijaga
berdiam di sana, dia sering berendam di
sungai
(kali), atau jaga kali. Dalam satu riwayat,
Sunan
Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi
Saroh
binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3
putra: R.
Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh
dan Dewi
Sofiah.
8.Sunan Muria atau Raden Umar Said
Lokasi :
Makam Sunan Muria di Desa Colo,
Kecamatan
Dawe. Ziarah ke makam Sunan Muria yang
berjarak sekitar 30 kilometer arah utara
dari
KMMK (Kompleks Masjid Menara Kudus)
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Muria dilahirkan dengan nama
Raden Umar
Said atau Raden Said. Menurut beberapa
riwayat,
dia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang
menikah
dengan Dewi Soejinah, putri Sunan
Ngudung.Nama
Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal
dari nama
gunung (Gunung Muria), yang terletak di
sebelah
utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat dia
dimakamkan.
9.Sunan Gunung Jati atau Syarif
Hidayatullah
Lokasi :
Kawasan Perziarahan makam Sunan
Gunung Jati
yang terletak di desa Astana kecamatan
Cirebon
Utara, sekitar 6 km dari Kota Cirebon yang
di
lintasi jalur Cirebon Indramayu. Kawasan
ini telah
di kenal luas,bahkan hingga ke
mancanegara.
kawasan ini potensial untuk di tingkatkan
menjadi
obyek wisata utama,dan tempat ziarah di
Cirebon
pada khususnya dan untuk pengunjung luar
juga
pada umumnya, di samping tetap
melestarikan
sebagai tempat peziarahan.
Latar Belakang Sejarah :
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
adalah
putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam
putra
Syekh Jamaluddin Akbar. Di titik ini (Syekh
Jamaluddin Akbar Gujarat) bertemulah
garis nasab
Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati.
Ibunda Sunan
Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang,
seorang
putri keturunan keraton Pajajaran, anak
dari Sri
Baduga Maharaja, atau dikenal juga
sebagai Prabu
Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai
Subang
Larang. Makam dari Nyai Rara Santang
bisa kita
temui di dalam klenteng di Pasar Bogor,
berdekatan dengan pintu masuk Kebun
Raya
Bogor..
*semoga qt bisa menziarahi semuanya,,,ada waktunya,,sehatnya,,dan rezekinya..aminn


Tidak ada komentar:
Posting Komentar